Begitu terkenang dalam ingatan kita, cerita para ulama di masa lalu tentang Jembatan Shirotol Mustaqiem. Gambarannya sangat mengerikan, bahwa Jembatan Shirotol Mustaqiem itu modelnya bagaikan selembar rambut dibelah tujuh, sehingga siapa orangnya yang mampu melintasi jembatan itu maka akan masuk syurga, dan siapa orangnya yang terpeleset dari jembatan itu maka akan masuk ke jurang neraka.
Tentunya ilustrasi itu adalah perumpamaan yang disesuaikan dengan kadar pemikiran dan pemahaman masyarakat waktu itu. Dan pendekatan yang dikembangkan dengan cerita seperti itu, hasilnya lumayan juga sangat berdampak terhadap kebangkitan semangat ibadah.
Yang penting kemudian dikembangkan untuk masyarakat di zaman modern ini, adalah tentang tampilan Jembatan Shirotol Mustaqiem yang sangat mengerikan tidak hanya dipandang dan dibayangkan sebatas bakal dijumpainya nanti di akhirat, namun perjuangan membentangkan atau menjalani Jembatan Shirotol Mustaqiem itu peluangnya adalah saat kita masih hidup di permukaan dunia. Cara pandang seperti ini, di samping sejalan dengan semangat ayatNya (QS. Al Fatihah ayat 6), juga muatan hasil yang berdampak terhadap kebangkitan semangat ibadah itu dapat berkembang lebih luas dan lebih nyata.
Salah satu rujukan adanya kata Jembatan Shirotol Mustaqiem, terdapat dalam QS. Al Fatihah ayat 6 yang berbunyi Ihdinashirootil mustaqiem yang terjemahnya ”Tunjukilah kami jalan yang lurus” Makna jalan yang lurus sama dengan jalan yang benar. Karena ihdina terambil dari kata hidayah, yang mengandung arti memberi petunjuk ke jalan yang benar. Menurut Ibnu Katsier, Shirath ’l-Mustaqiem itu Al Qur’an / ajaran Islam.
Maka, jalan yang lurus atau benar, yang selanjutnya populer dengan sebutan Jembatan Shirotol Mustaqiem, lebih tegasnya yaitu jalan yang kita harapkan dan selalu kita minta kepada Allah melalui bacaan QS. Al Fatihah ayat 6, baik berulang kali setiap kita shalat mapun dalam kegiatan berdo’a.
Karena itu teramat banyak jalan yang lurus yang berpeluang bisa kita dapatkan dari 6.666 atau 6.236 ayat Al Qur’an untuk keselamatan, kebahagiaan, dan kesuksesan hidup, termasuk untuk syarat masuk syurga karena mampu melintasi jalan atau jembatan itu.
Bahkan menurut penelitian Ali Syariati, dari 6.666 atau 6.236 ayat Al Qur’an itu, ayat yang berbicara untuk urusan akhirat jumlahnya hanya 112 ayat saja, sedangan ribuan ayat sisanya berbicara tentang urusan tuntunan-tuntunan ”sukses dunia”.
Karena itu kita dukung semangat di masa lalu yang mensosialisasikan bahwa Jembatan Shirotol Mustaqiem itu modelnya bagaikan selembar rambut dibelah tujuh, yang mendorong hidup lebih hati-hati untuk memperbanyak amal ibadah agar tidak celaka (masuk neraka), dan sebaliknya kita semua dengan modal banyak amal kebaikan dapat selamat (masuk syurga).
Persoalan secara persis bentuk Jembatan Shirotol Mustaqiem di akhirat nanti seperti apa (wallahu alam bi shawwab / urusan Allah). Akan tetapi perjuangan saat kita berada di dunia ini adalah harus diprioritaskan untuk banyak menumbuhkembangkan / mengamalkan tuntunan-tuntunan Al Qur’an, baik dalam aktivitas hablumminallah maupun hablumminanas.
Dengan demikian, segala perbuatan atau amal baik yang kita lakukan apapun bentuknya, dengan tidak lepas dari semangat tuntunan Al Qur’an atau ajaran Islam maka sama artinya kita itu melintasi jembatan Shirotol Mustaqiem.
Dan pada prakteknya, betapa sulitnya kebaikan itu kita wujudkan dalam keseharian hidup. Terkadang orang menganggap aneh bila ada yang konsisten berada di jalan yang benar dalam suasana umunya orang menyimpang dari kebenaran. Bahkan, tidak sedikit demi kepentingan dan keuntungan suatu urusan, maka berbagai cara (berbagai jalan yang salah) dilakukannya dengan menyimpang dari kebenaran (jalan yang lurus atau benar).
Dan gambaran orang yang memiliki ketidakmampuan berada di jalan yang benar itu, berarti pula orang itu terpeleset dari jembatan Shirotol Mustaqiem.
Tentu jangankan di akhirat, orang yang terpeleset dari jalan yang lurus atau benar itu sudah pasti di dunia pun akan celaka. Sebaliknya orang yang dalam kehidupan di dunia ini selalu mengembangkan amal kebaikan atau selalu berada di jalan yang benar berdasarkan ajaran Islam, maka ia akan mengalami kebahagiaan, kesuksesan dan keselamatan tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat pun dapat dengan lolos untuk masuk syurga.
Karena itu mari kita lintasi jembatan Shirotol Mustaqiem dengan berbagai amal kebaikan berdasarkan ajaran Islam baik dalam aktivitas hablumminallah maupun hablumminanas. Dan kita hindari serta waspadai, agar langkah kita di dunia dapat melintasi jalan yang lurus atau benar berdasarkan Al Qur’an / ajaran Islam. Paling tidak kita waspada dengan hal-hal sebagai berikut:
- Jangan sampai jembatan Shirotol Mustaqiem jadi bengkok, karena menyekolahkan anak ke sekolah ngetop dengan pakai uang pelicin
- Jangan sampai terpeleset dalam jembatan Shirotol Mustaqiem, karena ingin jadi PNS dengan cara menyuap.
- Jangan sampai jembatan Shirotol Mustaqiem jadi ambruk, karena bisnis dengan kebohongan dan penipuan
- Jangan sampai jati diri kita berjalan terperosok di jembatan Shirotol Mustaqiem, karena penyakit hati, kemunafikan dan aneka perbuatan maksiat yang dilakukan.
Semoga !
—————————————————–
*) Penulis adalah Guru PAI SMA KOSGORO/Dosen STAI Kuningan
Ditulis oleh ugin67